Kontemplasi Perubahan Iklim Melalui Film Fiksi Ilmiah: Bagaimana Jika Bencana Benar-benar Terjadi?
Share on facebook
Share on twitter
Share on email

Film merupakan salah satu hiburan yang paling diminati oleh sebagian besar orang di dunia. Ada jutaan film yang telah diproduksi yang mengisahkan berbagai hal dan dikemas dalam beragam genre seperti aksi, komedi, fantasi, hingga fiksi ilmiah.

Dalam dunia perfilman, tema-tema yang diangkat sudah sangat banyak dan hampir semua problem dapat kita temui di dalam film, termasuk perubahan iklim. Ada banyak sekali film yang bercerita tentang perubahan iklim mulai dari meramalkan kejadian bencananya atau mengambil latar saat dan setelah terjadinya perubahan iklim.

Semua orang tahu bahwa perubahan iklim merupakan ancaman nyata. Umat manusia dihadapkan dengan dua pilihan, yakni musnah atau bertindak. Pada umumnya film-film mengenai perubahan iklim mengandung pesan agar umat manusia segera bertindak mencegahnya agar tidak semakin parah sebelum terlambat. Simak beberapa ulasan film fiksi ilmiah tentang perubahan iklim berikut, barangkali cocok untuk mengisi waktu luang Anda.

  1. Don’t Look Up

Film ini bercerita tentang penemuan sebuah komet baru yang diberi nama komet DiBiasky. Dibintangi oleh aktivis lingkungan Leonardo DiCaprio dan Jennifer Lawrence, film ini membawakan sindiran-sindiran yang cukup menggelitik. Selain Leo dan Jennifer, sejumlah bintang  ternama lainnya juga ikut serta dalam film ini seperti Timothee Chalamet, Meryl Streep, Cate Blanchett, dan Rob Morgan.

Dalam film ini diperlihatkan bagaimana abainya pemerintah Amerika dalam menyikapi isu lingkungan yang nyatanya mendesak. Penemuan komet Dibiasky bukanlah sebuah hal yang menggembirakan, melainkan petaka karena dalam rentang waktu enam bulan komet tersebut akan menabrak bumi dan menghancurkan bumi beserta segala isinya. Namun, pemerintah sangat santai dan malah lebih memikirkan pemilu selanjutnya. Saat kabar mengenai komet ini disebar di media, respon masyarakat tampak biasa saja dan menganggap para ilmuwan bodoh. Mereka lebih tertarik dengan berita penyanyi yang putus dengan kekasihnya.

Ancaman komet DiBiasky yang dapat menghancurkan planet dapat diibaratkan sebagai perubahan iklim. Bencana yang dibawanya pasti terjadi dan dampaknya tak terelakkan, namun dapat dapat diminimalisir dengan melakukan tindakan pencegahan sebelum terlambat. Komet DiBiaski dapat dibelokkan agar tidak sampai menabrak bumi, namun pemerintah yang plin-plan malah terpengaruh dengan bujukan orang kaya serakah yang lebih mementingkan kekayaan pribadi di depan ancaman kepunahan umat manusia.

Film ini juga bergenre action-comedy, memarodikan berbagai “kelucuan” oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang sering kita temui seperti pungli, KKN, skandal  di kalangan pemerintah, dan lain sebagainya.  Film ini layak masuk ke watchlist anda.

  1. Wall-E

Anda suka film animasi? Film garapan Pixar Animation Studio ini wajib anda tonton. Film ini berlatar bumi di masa depan ketika bumi tidak dapat lagi ditinggali oleh manusia. Manusia hidup di kapal Axiom, sebuah kapal luar angkasa. Mereka hidup di sana selama tujuh ratus tahun dan tidak pernah kembali ke bumi. Kehidupan yang dijalani orang-orang di Axiom pun tak lepas dari layar. Manusia lupa apa itu kemanusiaan, segala hal terpenuhi oleh keberadaan robot bahkan manusia sempat lupa bahwa mereka punya kaki untuk berjalan.

Wall-E merupakan sebuah robot yang tinggal di bumi dan betugas merapikan sampah. Bumi sudah gersang, tidak ada lagi laut dan tumbuhan yang terlihat. Bahkan di bumi hanya ada Wall-E dan seekor kecoa kebal yang tidak mati meskipun sudah terinjak oleh Wall-E secara tak sengaja.

Kapal Axiom menjalankan misi sejak tujuh abad lalu untuk mencari peluang rekolonisasi bumi dengan cara mencari keberadaan tumbuhan. Mereka meninggalkan sebuah robot canggih untuk melaksanakan misi tersebut.

Wall-E tinggal di bumi dengan sisa-sisa kenangan dari keberadaan manusia. Ia selalu bersentuhan dengan memori-memori ketika manusia masih menikmati kehidupan yang baik di bumi melalui rekaman-rekaman video musik dan benda-benda yang ia temukan dari tumpukan sampah. Selama ia hidup dengan si kecoa, jiwa Wall-E mulai tumbuh. Wall-E tampak penasaran dengan interaksi emosional yang ia lihat di sebuah cuplikan video yang memperlihatkan dua orang berpegangan tangan.

Suatu hari, ia bertemu dengan EVE, robot super canggih yang bertugas menjalankan misi mencari tumbuhan di bumi. Wall-E memberikan sebuah tanaman kecil yang ia temukan dalam sebuah kulkas di tumpukan sampah. Beberapa hari kemudian, kapal Axiom datang kembali untuk menjemput EVE.

Interaksi Wall-E dan Eve menciptakan sebuah drama dimana robot terasa seperti manusia, sedangkan di sisi lain, manusia yang sibuk dengan layar terasa seperti robot karena kehilangan sisi kemanusiaannya. Hal ini menyampaikan bahwa semakin hari, kehidupan manusia tampak semakin mirip dengan kehidupan yang berlangsung di kapal Axiom.

Kapten B yang memimpin kapal mencoba menyesuaikan aturan dengan keadaan saat setelah ditemukannya tumbuhan, yaitu memulai protokol kembali ke bumi. Namun hal ini ditentang oleh Auto yang merupakan robot asisten yang di setting tujuh abad lalu untuk mencegah manusia kembali ke bumi. Kapten B seperti perumpamaan pihak-pihak yang berusaha menyelamatkan lingkungan namun kekurangan tenaga dan jumlah, sedangkan Auto seperti pihak-pihak berkuasa dan banyak uang serta serakah menghalangi niat baik untuk kemaslahatan bersama dan berdalih bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik.

Film Wall-E mengingatkan kita untuk menjaga lingkungan demi generasi mendatang serta pesan kemanusiaan agar tidak melupakan apa itu “kemanusiaan” dan bagaimana cara kerjanya. Jangan sampai kita menjadi makhluk berwujud manusia namun hidup tanpa jiwa dan kehilangan kemampuan sosial akibat kecanggihan teknologi.

  1. The Day After Tomorrow

Film fiksi ilmiah yang disutradarai oleh Roland Emmerich ini bercerita tentang dunia yang membeku akibat pemanasan global. Menurunnya suhu bumi secara drastis ini dianggap sebagai pemulihan diri yang dilakukan oleh alam. Para ilmuwan menyebutnya sebagai zaman es baru.

Film ini berdurasi selama 123 menit, menceritakan seorang paleoclimatologist yaitu seorang peneliti perubahan iklim bernama Jack Hall yang diperankan oleh Dennis Quaid. Saat ia berada di Antartika untuk melakukan penelitian bersama teman-temannya, lapisan es tepat di bawah mereka retak dan membuat patahan yang sangat besar dan dalam. Ia segera melaporkan hal tersebut kepada para petinggi Negara namun banyak dari mereka tidak mempercayai hal tersebut.

Sementara itu, seorang peneliti iklim bernama Professor Terry Rapson yang diperankan oleh Ian Holm mendapati bahwa terjadi penurunan volume air laut secara drastis di Atlantik Utara yang terdeteksi oleh pelampung.

Di sisi lain seluruh dunia sedang dilanda badai es yang sangat dahsyat. Terjadi kebekuan di daerah-daerah gurun, bahkan badai es dengan suhu super rendah dapat membekukan manusia dalam waktu kurang dari lima menit.

Pada saat itu, anak laki-laki Jack Hall yang bernama Sam Hall (Jake Gyllenhaal) sedang berada di kota New York untuk mengikuti sebuah perlombaan akademik bersama teman-temannya, Brian (Arjay Smith) dan Laura (Ammy Rossum). Ia berencana akan segera pulang dengan kereta bawah tanah, namun stasiun kereta ditutup karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan dan terjadi gelombang pasang yang sangat besar sehingga menyebabkan banjir. Sam dan teman-temannya menyelamatkan diri ke Perpustakaan Umum Kota New York bersama para pengungsi lain. Mereka melakukan berbagai cara untuk bertahan dari serangan cuaca dingin sampai membakar buku-buku yang ada di perpustakaan agar tetap hangat. Sementara itu, Jack memutuskan segera menjemput anaknya ke New York.

Film ini seperti memperlihatkan simulasi apabila gelombang beku benar-benar terjadi. Pemandangan kota New York yang biasanya penuh kehidupan yang sibuk tampak beku dan tertutup salju setinggi puluhan meter. Gelombang beku ini menewaskan jutaan orang dari seluruh dunia termasuk beberapa rekan Jack Hall.

Jika fenomena alam yang dalam film The Day After Tomorrow benar-benar terjadi, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai bentuk amarah bumi atas perbuatan manusia yang merusak alam dan tidak mampu mengembalikannya ke keadaan semula.

Ulasan dari ketiga film diatas membawa kita pada satu kesimpulan yang sama yakni manusia harus melakukan tindakan pencegahan bencana dengan mengurangi pemicu perubahan iklim dan pemanasan global. Alam telah menunjukkan tanda-tanda perubahan yang besar, baik yang terjadi secara perlahan maupun yang berubah secara signifikan.

Pengaruh dari perubahan iklim sangatlah besar. Mungkin saat ini kita tidak terlalu merasakannya karena belum terlalu terlambat, namun bagaimana dengan lima puluh tahun ke depan? Barangkali keadaan-keadaan seperti di dalam film dapat benar-benar terjadi dan siapa tahu? Namun, manusia masih memiliki kesempatan melakukan upaya perbaikan agar bumi menjadi lebih baik dan kualitas hidup dapat ditingkatkan. (*)

Blog
Staff members of EcoNusantara follow and share the dynamics in sustainable development and environmental and social responsibilities issues. The opinions and views presented here do not necessarily represent those of Eco Nusantara.
Related

Latest News