Transformasi Pembalut Sekali Pakai: Dari Penyelamat Wanita Menjadi Monster Limbah
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Stop Sampah Pemabalut

Sampah pembalut sekali pakai memberikan kontribusi yang cukup besar dalam kerusakan alam dan lingkungan hidup. Hal ini dikarenakan pembalut sekali pakai akan berakhir di tempat pembuangan sampah setelah digunakan. Bahan pembalut sekali pakai terdiri dari kapas, plastik, hydrogel, serta bahan-bahan kimia lainnya yang sangat sulit terurai. Seperti yang kita tahu, bahan plastik membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk dapat terurai, belum lagi bahan kimia seperti pemutih dan pewangi yang terkandung dalam pembalut terdiri dari ribuan zat kimia yang berbahaya bagi lingkungan.

Pembalut tergolong ke dalam kebutuhan pokok bagi wanita yang aktif secara reproduksi.  Setiap wanita dapat mengganti pembalut sebanyak 3 hingga 5 kali saat periode menstruasi datang, tergantung pada durasi dan volume pendarahan. Jika dikalikan, setiap perempuan menggunakan lebih dari 300 pembalut setahun. Bayangkan penggunaan pembalut sekali pakai di seluruh dunia, sampah produk sanitary tersebut dapat mencapai jumlah yang fantastis.

Setelah dipakai, biasanya pembalut akan dicuci sebelum dibuang. Jika tidak cerdas dalam membuang sampah yang satu ini, tindakan yang dilakukan dapat membahayakan lingkungan tempat tinggal, alam, bahkan masa depan. Sampah pembalut yang tertumpuk dalam kurun waktu tertentu melepaskan gas metana yang berperan besar dalam pemanasan global. Selain itu, struktur pembalut sekali pakai mudah terlepas dan berceceran. Bahan-bahan pembentuk pembalut ini dapat menyerap air dan dalam kondisi tertentu seperti di laut dapat menyatu dengan ekosistem laut sebagai pencemar. Zat kimia ini tidak akan terurai bahkan setelah dimakan oleh hewan laut, dan malah menyebabkan keracunan.

Lantas, bagaimana penanganannya?

Sebagian mungkin berpikir bahwa sampah pembalut sekali pakai dapat diatasi dengan cara dibakar. Nyatanya, hal tersebut hanya akan memperparah pencemaran. Pembakaran akan menghasilkan dioksin yang sangat berbahaya apabila terhirup. Dioksin dapat memicu berbagai penyakit salah satunya kanker, dan dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan keracunan yang mengancam nyawa.

Terdapat beberapa inovasi dalam mengolah sampah pembalut. Salah satunya adalah menjadikannya pupuk cair yang berguna bagi tanaman. Selain itu, sampah pembalut juga dapat dicacah dan didaur ulang menjadi barang-barang baru seperti benang plastik/nilon, berbagai perabotan rumah tangga, hingga pupuk (Liputan6.com). Meskipun begitu, upaya-upaya ini perlu digalakkan mengingat volume sampah pembalut di alam masih sangat tinggi.

Solusi lain adalah dengan beralih menggunakan produk-produk reusable, seperti pembalut kain, celana menstruasi, hingga menstrual cup. Produk pembalut kain terbukti ramah lingkungan dan tidak menimbulkan sampah yang membahayakan. Kain yang merupakan bahan organik dapat terurai dengan mudah, selain itu dapat dipakai dalam jangka waktu yang lama. Hal yang sama juga berlaku pada celana menstruasi yang merupakan terobosan baru. Meskipun harga per unitnya cukup mahal, namun masih sangat terjangkau apabila dibandingkan dengan biaya pembelian pembalut sekali pakai setiap kali siklus menstruasi datang.

Solusi lain adalah menstrual cup. Benda ini terbuat dari silikon yang jumlahnya melimpah di bumi. Meskipun menstrual cup menawarkan fitur yang jauh lebih ramah lingkungan, penggunaannya masih diperdebatkan. Terdapat nilai-nilai adat dan kepercayaan yang tidak mendukung penggunaan menstrual cup, terutama bagi perempuan yang belum menikah.

Menjaga alam dan lingkungan hidup adalah tanggung jawab semua orang. Bagi para wanita, sudah saatnya menentukan pilihan apakah akan tetap menggunakan produk sanitary sekali pakai atau beralih ke produk yang lebih ramah lingkungan. Edukasi mengenai penggunaan produk-produk sanitary masih jarang ditemukan, hal itulah yang membuat kesadaran masyarakat masih sangat tipis. (*)

Blog
Staff members of EcoNusantara follow and share the dynamics in sustainable development and environmental and social responsibilities issues. The opinions and views presented here do not necessarily represent those of Eco Nusantara.
Related

Latest News